Menu Article

Tampilkan postingan dengan label Ukhuwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ukhuwah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 September 2009

INDAHNYA UKHUWAH ISLAMIYAH

writen by div. Pengembangan PPSDM JMMI ITS

Ukhuwah islamiyah merupakan ikatan yang mengikat kaum muslimin antara yang satu dengan yang lainnya. Ukhuwah islamiyah merupakan ikatan yang yang diikatkan oleh Allah swt. di langit. Sehingga ukhuwah islamiyah ini menjadi benang yang merangkai seluruh kaum muslimin dengan rangkaian otomatis. Ukhuwah islamiyah membentuk perjanjian yang sangat berharga. Dengan ukhuwah ini seorang muslim berhak memberikan pertolongan pada muslim lainnya, menasehatinya, membantu memecahkan kesulitannya serta saling menghormati dan saling menghargai relativitas masing – masing sebagai sifat dasar kemanusiaan, sebagai perbedaan pemikiran, sehingga tidak menjadi penghalang untuk saling membantu atau menolong karena diantara mereka terikat oleh suatu keyakinan dan jalan hidup yaitu islam. Seseorang yang menempuh perjalanan dan mengabdikan diri dalam ukhuwah islamiyah akan mendapatkan keutamaan dunia dan akhirat. Wajah mereka berseri-seri terkena pantulan cahaya iman. Dosa-dosa mereka berguguran laksana daun-daun yang berguguran dari pohon kering yang ditiup oleh angin kencang.
“Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu saudaranya yang muslim, lalu ia memegang tanganny(berjabat tangan), gugurlah dosa-dosa keduanya sebagaimana gugurnya daun dari pohon kering yang ditiup angin kencang. Sungguh diampuni dosa mereka berdua, meski sebanyak buih dilautan.”(HR.Tabrani).

Allah melindungi mereka dan menetapkannya dalam naungan Arsy pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Allah menyirami mereka dengan telaga cinta-Nya, menempatkan di dalam surgaNya yang luas. Mereka menjadi manusia yang dapat meresapi manisnya iman dan islam.

Ukhuwah islamiyah yang kuat dapat terbentuk atas :

1.Keikhalasan karena Allah semata

Ukhuwah islamiyah bisa terajut dan akan mengarah pada hal yang positif jika sang pelaku bisa membebaskan diri dari kepentingan dan keuntungan pribadi.

2.Disertai iman dan taqwa

Setiap muslim mencari sahabat yang beriman dan bertaqwa, bukannya orang yang fasik.

Sabda Rasulullah:

”Seseorang itu menurut agama sahabat dekatnya, maka hendaklah kamu melihat dengan siapa ia bersahabat”(HR.Abu Hurairah dan Tirmidzi).

3.Menjadikan ukhuwah selalu komit terhadap manhaj islam dengan mengikuti kitabullah dan as sunnah.

Ukhuwah akan menjaga diri kita agar istiqomah dalam jalan syariat.

”Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan..”(QS.Al Maidah 2).

4.Saling menasehati karena Allah

Seorang muslim merupakan cermin bagi saudara muslim lainnya. Jika melihat saudaranya melakukan kebajikan, ia memberi semangat agar saudaranya terus meningkatkan amalnya. Jika saudaranya melakukan kesalahan atau hal keji maka sudah menjadi kewajiban untuk menasehati dengan cara yang baik.

5.Setia kawan

Rasa kesetiaan dan tolong menolong dalam keadaan senang maupun susah akan sulit terwujud jika tidak ada keikhlasan, dan jalinan yang murni itu hanya pada ukhuwah islamiyah

Perusak Ukhuwah




Pada masyarakat Islam, persatuan dan kesatuan atau lebih sering disebut dengan ukhuwah Islamiyah merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendasar, apalagi hal ini merupakan salah satu ukuran keimanan yang sejati. Kerana itu, ketika Nabi Saw berhijrah ke Madinah, yang pertama dilakukannya adalah Al-Muakhah, yakni mempersaudarakan sahabat dari Makkah atau muhajirin dengan sahabat yang berada di Madinah atau kaum Anshar. Ini bererti, ketika seseorang atau suatu masyarakat beriman, maka seharusnya ukhuwah Islamiyah yang didasari oleh iman menjelma dalam kehidupan sehari-hari, Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya mukmin itu bersaudara, kerana itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [QS Al-Hujurat (49):10]

Satu hal yang harus diingat bahwa, ketika ukhuwah islamiyah hendak diperkukuh atau malah sudah kukuh, ada saja usaha orang-orang yang tidak suka terhadap persaudaraan kaum muslimin, mereka berusaha untuk merosakkan hubungan di antara sesama kaum muslimin dengan menyebarkan fitnah dan berbagai berita bohong. Dalam kehidupan umat Islam, kita akui bahwa ukhuwah Islamiyah belum berwujud secara ideal, namun musuh-musuh umat ini tidak suka bila ukhuwah itu berwujud, mereka terus berusaha menghambatnya. Kerana itu, setiap kali ada berita buruk, kita tidak boleh langsung mempercayainya, tapi lakukan tabayyun atau cek dan ricek terlebih dahulu kebenaran berita itu. Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya sehingga kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu.” [QS Al-Hujurat (49): 6]

Asbabun nuzul (sebab turunnya ayat) tersebut di atas adalah, suatu ketika Al-Harits datang menghadap Nabi Muhammad saw., beliau mengajaknya masuk Islam, bahkan sesudah masuk Islam ia menyatakan kemauan dan kesanggupannya untuk membayar zakat. Kepada Rasulullah, Al-Harits menyatakan, “Saya akan pulang ke kampung saya untuk mengajak orang untuk masuk Islam dan membayar zakat dan bila sudah sampai waktunya, kirimkanlah utusan untuk mengambilnya.” Namun ketika zakat sudah banyak dikumpulkan dan sudah tiba waktu yang disepakati oleh Rasul, ternyata utusan beliau belum juga datang. Maka Al-Harits beserta rombongan berangkat untuk menyerahkan zakat itu kepada Nabi.

Sementara itu, Rasulullah saw. mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat, namun di tengah perjalanan hati Al-Walid merasa gentar dan menyampaikan laporan yang tidak benar, yakni Al-Harits tidak mahu menyerahkan dana zakat, bahkan ia akan dibunuhnya. Rasulullah tidak langsung begitu saja percaya, beliau pun mengutus lagi beberapa sahabat yang lain untuk menemui Al-Harits. Ketika utusan itu bertemu dengan Al-Harits, ia berkata, “Kami diutus kepadamu.” Al-Harits bertanya, “Mengapa?” Para sahabat menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah telah mengutus Al-Walid bin Uqbah, ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat bahkan mau membunuhnya.”

Al-Harits menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya dan tidak ada yang datang kepadaku.” Maka ketika mereka sampai kepada Nabi saw., beliau pun bertanya, “Apakah benar engkau menahan zakat dan hendak membunuh utusanku?” “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian.” Maka turunlah ayat itu.

Surat Al Hujurat ayat 6 di atas menggunakan kata “naba’” dan bukan “khabar”. M. Quraish Shihab dalam bukunya Secercah Cahaya Ilahi halaman 262 membezakan makna dua kata itu. “Kata naba’ menunjukkan berita penting, sedangkan khabar menunjukkan berita secara umum. Al-Qur’an memberi petunjuk bahwa berita yang perlu diperhatikan dan diselidiki adalah berita yang sifatnya penting. Adapun isu-isu ringan, kata-kata kosong, dan berita yang tidak bermanfaat tidak perlu diselidiki, bahkan tidak perlu didengarkan kerana hanya akan membazir waktu dan tenaga.”

Enam Perosak Ukhuwah

Mengingat kedudukan ukhuwah islamiyah yang sedemikian penting, maka memeliharanya menjadi sesuatu yang amat ditekankan. Disamping harus memeriksa kebenaran suatu berita buruk yang menyangkut saudara kita yang muslim, ada beberapa hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah boleh tetap terpelihara. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita wanita-wanita mengolok-olokan wanita yang lain (kerana) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [QS Al-Hujurat (49): 11-12]

Dari ayat di atas, ada enam hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah tetap terpelihara: Pertama, memperolok-olokan, baik antar individu maupun antara kelompok, baik dengan kata-kata maupun dengan bahasa isyarat kerana hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan dan permusuhan. Manakala kita tidak suka diolok-olok, maka janganlah kita memperolok-olok, apalagi belum tentu orang yang kita olok-olok itu lebih buruk dari diri kita. Kedua, mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi bila kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar. Manusia yang suka menghina bererti merendahkan orang lain, dan iapun akan jatuh martabatnya.

Ketiga, memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai. Kekurangan secara fizikal bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil orang lain dengan keadaan fizikalnya itu. Orang yang pendek tidak mesti kita panggil si pendek, orang yang badannya gemuk tidak harus kita panggil dengan si gemuk, begitulah seterusnya kerana panggilan-panggilan seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Memanggil orang dengan gelar sifat yang buruk juga tidak dibolehkan meskipun sifat itu memang dimilikinya, misalnya kerana si A sering berbohong, maka dipanggillah ia dengan si pembohong, padahal sekarang sifatnya justru sudah jujur tapi gelar si pembohong tetap melekat pada dirinya. Kerananya jangan dipanggil seseorang dengan gelar-gelar yang buruk.

Keempat, berburuk sangka, ini merupakan sikap yang bermula dari iri hati (hasad). Akibatnya ia berburuk sangka bila seseorang mendapatkan kenimatan atau keberhasilan. Sikap seperti harus dicegah kerana akan menimbulkan sikap-sikap buruk lainnya yang boleh merosak ukhuwah islamiyah. Kelima, mencari-cari kesalahan orang lain, hal ini kerana memang tidak ada perlunya bagi kita, mencari kesalahan diri sendiri lebih baik untuk kita lakukan agar kita boleh memperbaiki diri sendiri. Keenam, mengumpat dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu tidak menyukainya, apalagi bila hal itu menyangkut rahsia peribadi seseorang. Manakala kita mengetahui rahsia orang lain yang ia tidak suka bila hal itu diketahui orang lain, maka menjadi amanah bagi kita untuk tidak membicarakannya.

Dari huraian di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika ukhuwah islamiyah kita dambakan kewujudannya, maka segala yang boleh merosaknya harus kita hindari. Bila ukhuwah sudah terwujud, yang boleh merasakan manfaatnya bukan hanya sesama kaum muslimin, tapi juga umat manusia dan alam semesta, kerana Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Kerananya mewujudkan ukhuwah Islamiyah merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan ini.

BIRRUL WALIDIN

( HAK ANAK TERHADAP ORANG TUA )

“ sesunggunya orang yang tidak menyayangi tidak akan di sayangi “

Diantara hak – hak orang tua terhadap anaknya adalah memperbaiki ahlaknya dan memberi nama yang baik . dan meratakan rasa sayang terhadap anak – anaknya. Bila mencapai umur 9 tahun maka pisahkanlah ranjangnya . bila kelak akan menikahkannya maka ayahnya menjabat tangannya sambil berkata ,” aku sudah mendidikmu dengan sopan , mengajarmu dan menikahkanmu .aku memohon perlindungan kepada Alloh akan fitnahmu didunia maupun di akherat”.

Dapat dipastikan bahwa hak – hak kerabat dan keluarga sangat kuat maka yang lebih khusus dan istimewa diantara hak keluarga ialah terhadap yang melahirkan dan dilahirkan atau hak kelahiran . ada sebuah keterangan ;

“ Tiada mampu membalas seseorang anak terhadap orangtuanya sekalipun orang tua di temukan dalam keadaan menjadi budak lalu ia membeli dan memerdekakan.”

Berbhakti kepada orangtua adalah lebih utama , barang siapa yang di pagi hari memperoleh ridlo kedua orangtuannya maka iamempunyai dua pintu menuju surga. Dan barang siapa yang sore harinya diridloi kedua orangtuanya iapun akan memperoleh yang sama. Maka berbuat baiklah kepada ibumu , ayahmu, saudaramu , saudarimu , kemudian yang dekat denganmu dan yang lebih dekat denganmu.

Semoga Alloh memberikan rahmat kepunyaaan NYA kepada orangtua yang menolong anaknya untuk berbhakti .
Semoga bermanfaat.